Arsip

Arsip untuk Februari, 2012

SOSIALISASI KELOMPOK SEKUNDER DAN KELOMPOK PRIMER

9 Februari 2012 1 komentar

Berdasarkan jenisnya, sosialisasi dibagi menjadi dua: sosialisasi primer (dalam keluarga) dan sosialisasi sekunder (dalam masyarakat). Menurut Goffman kedua proses tersebut berlangsung dalam institusi total, yaitu tempat tinggal dan tempat bekerja. Dalam kedua institusi tersebut, terdapat sejumlah individu dalam situasi yang sama, terpisah dari masyarakat luas dalam jangka waktu kurun tertentu, bersama-sama menjalani hidup yang terkukung, dan diatur secara formal.

  • Sosialisasi primer

harles Horton Cooley mengemukakan tentang kelompok primer yang ditandai dengan ciri-ciri saling mengenal antara anggota-anggotanya, kerja sama yang erat dan bersifat pribadi,interaksi sosial dilakukan secara tatap muka (face to face). Kelompok primer merupakan kelompok yang didalamnya terjadi interaksi sosialyang anggotanya saling mengenal dekat dan berhubungan erat dalam kehidupan.Sedangkan menurut Goerge Homans kelompok primer merupakan sejumlah orang yang terdiri dari beberapa orang yang sering berkomunikasi dengan lainnya sehingga setiap orang mampu berkomunikasi secara langsung (bertatap muka) tanpa melalui perantara. Misalnya: keluarga, RT, kawan sepermainan, kelompok agama, dan lain-lain

Peter L. Berger dan Luckmann mendefinisikan sosialisasi primer sebagai sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat (keluarga). Sosialisasi primer berlangsung saat anak berusia 1-5 tahun atau saat anak belum masuk ke sekolah. Anak mulai mengenal anggota keluarga dan lingkungan keluarga. Secara bertahap dia mulai mampu membedakan dirinya dengan orang lain di sekitar keluarganya.

Dalam tahap ini, peran orang-orang yang terdekat dengan anak menjadi sangat penting sebab seorang anak melakukan pola interaksi secara terbatas di dalamnya. Warna kepribadian anak akan sangat ditentukan oleh warna kepribadian dan interaksi yang terjadi antara anak dengan anggota keluarga terdekatnya.

  • Sosialisasi sekunder

harles Horton Cooley juga mengemukakan tentang kelompok sekunder adalah kelompok sosial yang terdiri dari banyak orang, antara siapa hubungannya tidak perlu berdasarkan pengenalan secara pribadi dan juga sifatnya tidak begitu langgeng.

Sosialisasi sekunder adalah suatu proses sosialisasi lanjutan setelah sosialisasi primer yang memperkenalkan individu ke dalam kelompok tertentu dalam masyarakat Salah satu bentuknya adalah resosialisasi dan desosialisasi. Dalam proses resosialisasi, seseorang diberi suatu identitas diri yang baru. Sedangkan dalam proses desosialisasi, seseorang mengalami ‘pencabutan’ identitas diri yang lama.

Jalaludin Rakhmat membedakan kelompok ini berdasarkan karakteristik komunikasinya :

  •  Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas. Dalam, artinya menembus kepribadian kita yang paling tersembunyi, menyingkap unsur-unsur backstage (perilaku yang kita tampakkan dalam suasana pribadi saja). Meluas, artinya sedikit sekali kendala yang menentukan rentangan dan cara berkomunikasi. Pada kelompok sekunder komunikasi bersifat dangkal dan terbatas.
  • Komunikasi kelompok primer lebih menekankan aspek hubungan daripada aspek isi, sedangkan kelompok primer adalah sebaliknya.
  • Komunikasi kelompok primer cenderung informal, sedangkan kelompok sekunder formal.
  • Komunikasi pada kelompok primer bersifat personal, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal.
  • Komunikasi kelompok primer cenderung ekspresif, sedangkan kelompok sekunder instrumental.

Situs Biting Menguak Sejarah antara Lumajang, Sumenep, Majapahit, dan Indonesia

6 Februari 2012 Tinggalkan Komentar

Pada tahun 1300-an, Kerajaan Lamajang atau yang di dalam Babad Tanah Jawa sering disebut Majapahit Timur adalah suatu kerajaan besar. Wilayah kekuasaannya meliputi daerah Tiga Juru, yaitu Lamajang, Panarukan, Blambangan serta ditambah dengan daerah-daerah seperti Sumenep (Madura) dan Bali.
Kerajaan Lamajang didirikan oleh seorang tokoh pengatur siasat yang mumpuni dan menjadi arsitek utama Kerajaan Majapahit, yaitu Arya Wiraraja. Arya Wiraraja adalah seorang negarawan dan tokoh politik internasional yang sebelumnya adalah seorang Adipati Sumenep. Ia sangat pandai berdiplomasi dengan sejumlah pedagang dan pejabat kerajaan luar negeri di zamannya. Wiraraja adalah keturunan Raja Airlangga dan Singosari yang kemudian memimpin Kerajaan Majapahit Timur (Lamajang) karena berhasil membantu Raden Wijaya memberontak pada Jayakatwang Raja Singosari.
Kebesaran Lamajang saat itu dikenal bukan saja karena luasnya daerah kekuasaan, tetapi juga karena disana merupakan basis pemerintahan tokoh-tokoh yang disegani. Wiraraja memiliki putra bernama Adipati Nambi. Nambi inilah yang sebenarnya teman seperjuangan Raden Wijaya yang kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit. Berkat campur tangan dan pemikiran Wiraraja dan Nambi, Kerajaan Majapahit ini dapat berdiri dan menguasai nusantara hingga separuh dunia.
Juru Kunci Makam Ki Joyoboyo menuturkan, Arya Wiraraja memilih Kerajaan Lamajang untuk dipimpinnya karena negeri ini makmur dan damai. “Jika Kerajaan Lamajang dipadankan dengan Kerajaan Majapahit yang ada di Mojokerto, Kerajaan Lamajang jauh lebih besar.”
Diceritakannya, sejarah Lumajang yang paling dikenal adalah saat Adipati Nambi hendak menjenguk Wiraraja yang sedang sakit keras. Saat menjenguk, Nambi dihasut Mahapatih, salah seorang adipati dari Kerajaan Majapahit yang licik.
Mahapatih sesungguhnya dititah Raja Kertanegara untuk menyampaikan pesan sembari menjenguk Wiraraja. Usai menjenguk, Mahapatih ketika menemui Kertanegara bukannya bercerita tentang sakitnya Wiraraja, melainkan bercerita tentang Nambi yang dikatakannya sedang menyusun kekuatan untuk memberontak (makar) pada Majapahit. Kertanegara pun percaya dan terpengaruh. Kertanegara kemudian mempersiapkan pasukannya untuk menyerbu Kerajaan Lamajang.
Nambi yang mengetahui akan adanya penyerbuan Majapahit, lalu mencoba menyampaikan melalui surat dari daun lontar bahwa berita pemberontakan tersebut tidak benar. Sayang, Kertanegara yang saat itu masih terlalu muda menjadi raja, sudah terlalu marah dan emosi serta tetap ingin menghancurkan Kerajaan Lamajang yang Kota Raja-nya lebih besar dibanding Majapahit.
Akhirnya, terjadilah perang besar yang kita kenal dengan Perang Paregreg. Nambi bersama pengikutnya terus berperang dengan seluruh kekuatan untuk menjaga dan mempertahankan tanah kelahirannya. Sayang, karena kalah pasukan dan persenjataan, Nambi kalah dan tewas. Akibat perang itu, Lamajang mulai tenggelam dan menjadi bawahan Majapahit.
Pasca peperangan, Benteng Kota Raja Lamajang hancur. “Meski hancur, sisa bangunan kerajaan masih ada, yaitu Situs Biting,” ungkap Juru Kunci Makam Ki Joyoboyo.
Ya, Situs Biting adalah peninggalan peradaban Kerajaan Lamajang. Situs ini terletak di Dusun Biting, Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang. Dari situs inilah, kita dapat menyaksikan kebesaran Kerajaan Lamajang. Disana terdapat benteng dengan ketebalan 6 meter, tinggi 8-10 meter dan panjang sejauh 10 km.
Disamping tembok benteng Kota Raja, di situs ini dijumpai adanya menara pengawas dan juga makam petilasan Minak Koncar. Minak Koncar dahulu adalah seorang Adipati yang menjadi tokoh legenda di Lamajang.
Lokasi Situs Biting mencapai 135 hektar. Lokasi ini banyak menyimpan potensi benda-benda bersejarah peninggalan Kerajaan Majapahit. Dalam sejumlah penggalian, pernah ditemukan ujung keris serta manik-manik. Bahkan pernah ditemukan kepingan uang emas.
Sayang, Situs Kerajaan Lumajang Kuno ini kini terancam musnah. Seorang pengembang real estate telah membeli lahan kerajaan tersebut untuk diperluas menjadi komplek perumahan. Jarak antara bangunan perumahan dengan situs kerajaan bersejarah ini kini hanya berjarak 40 meter. Bahkan, ada bagian tembok kuno yang nyaris terkena buldoser.
Terancamnya situs Kerajaan Lamajang menarik para pemerhati sejarah yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit (MPPM) karena gundukan tanah yang banyak bata bagunan kerajaan hendak dibuldoser. Mengetahui pengembang perumahan hendak membuldoser sisa Kerajaan Lumajang Kuno, MPPM segera memberikan surat mengenai perusakan situs sejarah melanggar undang-undang (UU).
Upaya lain juga dilakukan oleh Warga Arya Wang Bang Pinatih se-Bali. Mereka berencana untuk melakukan pemugaran lantaran di dalamnya terdapat situs sejarah makam Minak Koncar. Minak Koncar ternyata adalah nama lain Ida Banyak Wide yang merupakan ayah dari Warga Arya Wang Bang Pinatih. Ida Banyak Wide adalah leluhur warga Bali. Oleh karena itulah, Warga Arya Wang Bang Pinatih berencana untuk turut serta menyelamatkannya.
Meski sejauh ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang menyetujui rencana pemugaran tersebut, namun kegiatan tersebut masih belum bisa dilaksanakan. Pasalnya, situs itu berada dibawah pengelolaan cagar budaya Trowulan, Mojokerto.
Mmm… Sejarah ini sangat menarik perhatian saya. Saya membayangkan, bisa jadi saya adalah salah satu turunan dari Wiraraja dan Nambi. Hehehe… Bukannya gedhe rumangsa, tapi saya memiliki darah Sumenep dari Ibu saya. Bapak Ibunya Ibu saya berasal dari Sumenep yang kemudian karena sesuatu hal yang saya tidak ketahui kemudian berpindah ke Lumajang. Bisa jadi kepindahan tersebut karena memang bagi mereka Lumajang adalah tanah leluhur sekaligus tanah harapan. Yang jelas, yang saya pahami dari keluarga besar Ibu saya, Lumajang dan Sumenep adalah 2 tempat yang tak terpisahkan karena terhubungkan oleh hubungan darah. Mbah saya dipanggil oleh anak-anaknya dengan sebutan Romo (Rama). Saya juga lupa, entah siapa orangtua dulu yang pernah bercerita pada saya bahwa Ibu saya putus darah birunya karena menikah dengan orang biasa. Samar-samar saya juga teringat, di masa kecil dulu, ada orangtua yang pernah memberi pesan agar saya mengingat sejarah keluarga Sumenep. Entahlah, saya juga tidak ingat mengapa dulu saya tidak begitu terkesan dengan cerita orangtua tersebut.
Apapun itu, hikmah yang saya peroleh dari kisah tersebut adalah memahami benang merah antara Lumajang, Sumenep, Majapahit, dan Indonesia. Bahkan, dari kisah ini saya mulai dapat meraba mengapa pemeluk agama Hindu mendirikan Pura Mandara Giri Semeru Agung di Senduro, Lumajang. Bisa jadi, karena leluhur mereka Minak Koncar berada di tanah ini. Setiap perayaan keagamaan Hindu, banyak warga dari berbagai penjuru, termasuk dari Bali, yang berbondong-bondong mengunjungi Pura Mandara Giri ini. Pura ini adalah Pura termegah yang berada di luar Pulau Bali.
Ya, intisari dari sejarah Situs Biting yang saya kisahkan ini adalah tentang bagaimana menyelamatkan jejak peradaban  sejarah agar tetap terjaga kelestariannya. Pasti tak banyak yang mengetahui bagaimana Lumajang ternyata memiliki peran besar dalam melahirkan Nusantara yang kemudian bertransformasi menjadi Indonesia seperti yang kita kenal saat ini. Kepada para pembaca yang mengetahui bagaimana caranya membantu penyelamatan Situs Biting Lumajang dari ancaman developer, Please help us… Please, do something together…!!!
* Gambar diambil dari www.inilah.com, www.hindubali.org, www.beritajatim.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.