senam lantai

A.    Senam Lantai

Pengertian

Senam dalam istilah Yunani kuno disebut gymnastic yang berasal dari kata gymnos, artinya telanjang dan astetica artinya keindahan. Jadi, senam adalah gerakan tubuh dengan pakaian minim untuk ditampilkan di hadapan tamu kehormatan maupun raja-raja di zaman Yunani kuno.

Menurut Widijoto (2008:1) “senam adalah latihan tubuh yang dipilih dan diciptakan dengan berencana, disusun secara sistematis dengan tujuan membentuk dan mengembangkan pribadi secara keseluruhan dengan harmonis.

Widijoto (2008:1) menyatakan ciri-ciri dan kaidah senam sebagai berikut:

  1. Gerakannya selalu dibuat atau diciptakan dengan sengaja.
  2. Gerakannya harus selalu berguna untuk mencapai tujuan tertentu (meningkatkan kelentukan, memperbaiki sikap dan gerak/keindahan tubuh, menambah keterampilan, meningkatkan keindahan gerak, dan meningkatkan kesehatan tubuh).
  3. Gerakannya harus selalu tersusun secara sistematis.

 Sejarah Senam

  •  Sejarah Senam Dunia

Tidak pernah diketahui secara pasti kapan manusia mulai mengenal latihan tubuh yang berupa senam dalam sejarah kemanusiaan. Tetapi setiap negara memiliki keterangan dan tanda-tanda adanya aktivitas senam. Misalnya pada jaman kuno (2000-1000 SM) di negara Cina terdapat kegiatan yang bertujuan sebagai sarana penyembuhan dan pengobatan, di India dikenal latihan yoga sebagai senam estetis, di Mesir ada latihan senam yang menyerupai gymnastic Jerman Kuno, dan di Jerman Kuno sendiri dapat dilihat lukisan-lukisan jambangan-jambangan di kota Kreta sekitar tahun 2000 SM.

Dari abad ke-19 menuju abad ke-20 terjadi peralihan pada semua bidang lapangan hidup. Penemuan mesin uap dan tenaga listrik membawa perubahan dalam cara kerja. Kerja manusia harus menyusaikan diri dari alat kerja tangan menjadi kerja mesin uap. Bersama dengan penemuan dalam bidan teknik dan IPA terjadi perubahan pula dalam pandangan ilmu pengetahuan jiwa, olah karena itu terjadi perubahan besar dalam senam.

Pada tahun 1908, senam untuk pertama kalinya dipertandingkan dalam Olimpiade IV di London, Inggris. sekaligus dalam event tersebut dibentuklah sebuah organisasi senam dunia yang dinamakan FIG (Federation International Gymnastic).

  •  Sejarah Senam di Indonesia

Olahraga senam masuk ke Indonesia bersamaan dengan masuknya tentara Jepang, dibuktikan dengan dikenalkannya senam Talso di kalangan tentara PETA. Pada tahun 1963, senam mulai dipertandingkan di pesta olahraga GANEFO (Games of The New Amarging Force) dan induk organisasi senam di Indonesia adalah Persani (Persatuan Senam Seluruh Indonesia).

 Gerakan Senam Lantai

  • Guling ke Depan (Fordward Roll)

Muhajir (2004: 133) berpendapat bahwa “guling ke depan adalah berguling ke depan atas bagian belakang badan (tengkuk, punggung, pinggang, dan pinggul bagian belakang)”. Latihan guling ke depan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: guling ke depan dengan sikap awal jongkok dan guling ke depan dengan sikap awal berdiri.

 

                Muhajir (2004:133) menjelaskan bahwa:

 

Cara melakukan guling depan:

(1) Mula-mula sikap jongkok, kedua kaki rapat, letakkan lutut ke dada, kedua tangan menumpu di depan ujung kaki kira-kira 40 cm. (2) Bengkokkan kedua tangan, letakkan pundak pada matras dengan menundukkan kepala, dagu sampai ke dada. (3) Lanjutkan dengan melakukan gerakan berguling  ke depan, ketika panggul menyentuh matras, peganglah tulang kering dengan kedua tangan menuju posisi jongkok.

Kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan saat guling ke depan:

(1) Kedua tangan yang bertumpu tidak tepat (dibuka terlalu lebar atau terlalau sempit, terlalu jauh atau terlalu dekat) dengan ujung kaki, (2) Tumpuan salah satu atau kedua tangan kurang kuat, sehingga keseimbangan badan kurang sempurna dan akibatnya badan jatuh ke samping, (3) Bahu tidak dilatekkan di atas matras saat tangan dibengkokkan, (4) Saat gerakan berguling ke depan kedua tangan tidak ikut bertolak ( Muhajir, 2004:135)

  • Guling ke Belakang

Guling ke belakang adalah menggulingkan badan ke belakang, dimana posisi badan tetap harus membulat, yaitu kaki dilipat, lurus tetap melekat di dada, kepala ditundukkan sampai dagu melekat di dada (Muhajir, 2004: 135).

Cara melakukan guling ke belakang:

(1) Sikap permulaan dalam posisi jongkok, kedua tangan di depan dan kaki sedikit rapat. (2) Kepala ditundukkan kemudian kaki menolak ke belakang. (3) Pada saat panggul mengenai matras, kedua tangan segera dilipatkan ke samping telinga dan telapak tangan menghadap ke bagian atas untuk siap menolak. (4) Kaki segera diatunkan ke belakang melewati kepala, dengan dibantu oleh kedua tangan menolak kuat dan kedua kaki dilipat sampai ujung kaki dapat mendarat di atas matras, ke sikap jongkok (Muhajir, 2004:135).

Muhajir (2004):136) menyebutkan bahwa:

Kesalahan-kesalahan yang dilakukan saat guling belakang:

(1) Penempatan tangan terlalu jauh di belakang, sehingga sikapnya salah dan tidak membuat tolakan, (2) Keseimbangan tubuh kurang baik saat mengguling ke belakang, hal ini disebabkan sikap tubuh kurang bulat, (3) Salah satu tangannya yang menumpu kurang kuat, atau bukan telapak tangan yang digunakan untuk menumpu di atas matras, (4) Posisi menggulung kurang sempurna, hal ini disebabkan kepala menoleh ke samping, (5) Keseimbangan tidak terjaga dan oleng, karena mendarat dengan menggunakan lutut (seharusnya telapak kaki).

 

  •   Meroda

Meroda adalah gerakan berputar seperti roda, dua lengan dan dua tungkai adalah merupakan jari jari (Suyati, 1995:451).

Suyati (1995:452) mengemukakan bahwa dalam melakukan gerakan meroda terdapat beberapa teknik, yaitu;

Terknik gerakan:

(1) Berdiri menyamping kiri dengan lengan dan lengan tungkai melebar lurus sebuah jari-jari sebuah roda. Pandangan ke bawah melihat matras. (2) Goyangkan badan ke kanan dan angkat kaki kiri ke atas letakkan kaki kiri disamping. Dengan momentum gerak pinggang dilipat, letakkan tangan kiri disamping kaki kiri ±60 cm. (3) Ayunkan kaki kanan ke atas dan di ikuti kaki kiri menolak. (4) Pada saat hampir membentuk hand stand, letakkan tangan kanan di samping tangan kiri dengan jarak selebar bahu, tangan dan kaki lurus dan kepala tegak. (5) Pada saat posisi hand stand kaki kanan diayun turun mendarat diikuti dengan kaki kiri, bersamaan dengan tolakan tangan sehingga dapat mendarat berdiri menghadap ke arah semula.

Kesalahan umum dalam melakukan gerakan meroda: (1) Tangan mendarat bersamaan (2) Tangan tidak pada garis lurus arah gerakan. (3) Saat tangan kanan mendarat terlalu dekat atau terlalu jauh. (4) Ayunan kaki kanan dan tolakan kaki kiri kurang kuat, gerakan meroda tidak berhasil dan jatuh. (5) Kaki dan tangan tidak lurus, kaki dibuka kurang lebar. (6) Pada saat sikap hand stand panggul menekuk. (7) Kepala menunduk, pandangan tidak ke tangan. (8) Gerakan tidak pada garis lurus (Suyati, 1995:452).

About these ads
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: